MASYARAKAT IFORMASI
Mengapa Literasi Digital dan Sistem Informasi Menjadi Kunci Keunggulan Kompetitif di Era Masyarakat Informasi
https://ai.invideo.io/watch/Ly17NgEYaeC
Latar Belakang Digital: Siapakah Anda dalam Cyberspace?
Dunia kita saat ini semakin terjalin erat oleh teknologi, membentuk apa yang disebut Cyberspace dunia maya yang diciptakan oleh komputer dan telekomunikasi (Williams & Sawyer, 2010). Dalam dunia digital ini, muncul pembagian generasi yang memiliki interaksi berbeda dengan teknologi: Imigran Digital (Generasi Milenial) dan Pribumi Digital.
Generasi yang lahir dan tumbuh di era digital memiliki ciri khas yang mendefinisikan cara mereka berinteraksi dan mengkonsumsi informasi. Mereka dikenal Selalu Daring (terhubung ke jaringan untuk mengakses informasi dan layanan) (Williams & Sawyer, 2010), merupakan Pembelajar Intuitif, Sangat Sosial, Multitask, dan berorientasi Multimedia—teknologi yang menyajikan informasi dalam banyak medium. Hidup di ruang nyata secara sendirian tidak berarti sepi di dunia maya.
Melek Teknologi: Fondasi di Era Konvergensi
Tiga Tahapan Pondasi Teknologi

Untuk berhasil dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi, setiap individu wajib menguasai kompetensi dasar, dimulai dari penguasaan terhadap perangkat keras itu sendiri.
Melek Komputer (Computer Savvy)
Menjadi computer savvy berarti tidak hanya sekadar bisa mengoperasikan, tetapi juga mengetahui secara mendalam apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh komputer. Ini mencakup pemahaman tentang bagaimana komputer dapat memberikan keuntungan atau kerugian, serta mengetahui kapan masalah komputer dapat diselesaikan sendiri dan kapan bantuan ahli diperlukan.
Melek TIK (Literasi ICT)
Perkembangan teknologi informasi (TI) dan komunikasi telah mencapai titik konvergensi. Teknologi Informasi (IT) itu sendiri adalah teknologi yang membantu memproduksi, memanipulasi, menyimpan, mengkomunikasikan, dan/atau menyebarkan informasi (Williams & Sawyer). Sementara itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) didefinisikan sebagai konvergensi antara teknologi telekomunikasi (komunikasi) dan komputer (Bouwman dkk., 2005; ITU, 2002).
Melek TIK adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan TIK yang diperlukan oleh kebanyakan pengguna (Acevendo, 2005). TIK telah menjadi tulang punggung bagi setiap bisnis dan memainkan peran penting dalam merevitalisasi proses bisnis serta meningkatkan pengambilan keputusan.
Data, Informasi, dan Sistem: Aset Penting Perusahaan
Alur pemprosesan Data

Semua aktivitas digital berpusat pada dua konsep utama: data dan informasi.
Data adalah material fakta mentah—seperti huruf, angka, simbol, bentuk, warna, atau suara (O’Brien dan Marakas, 2008). Data ini kemudian melalui proses tertentu untuk diubah menjadi Informasi, yaitu data yang berarti dan berguna (O’Brien dan Marakas, 2008). Informasi dihasilkan dan disampaikan kepada pengguna tertentu (Loose, 1997; O’Brien dan Marakas, 2008).
Peran Kritis Informasi
Informasi kini diakui sebagai kunci sumber daya ekonomi dan salah satu aset penting perusahaan yang sangat berharga (Moody dan Walsh, 1999; Drucker, 1992; dan Huang dkk, 1999). Urgensi informasi terlihat jelas: orang atau bisnis yang berhasil adalah mereka yang menguasai dan mengendalikan informasi (Fenner, 2002). Medium informasi dapat berupa teks, gambar, gambar bergerak, dan suara (Williams & Sawyer, 2010).
Sistem Informasi (SI) sebagai Pengelola Aset
Untuk mengubah data mentah menjadi informasi yang bernilai, organisasi menggunakan Sistem Informasi (SI), yang merupakan kombinasi teratur dari lima sumber daya utama:
- Manusia: Pengguna akhir (end users) dan spesialis SI.
- Perangkat Keras (Hardware): Perangkat fisik seperti komputer (mesin) dan media penyimpanan (disk, pita magnetik).
- Perangkat Lunak (Software): Program (instruksi untuk komputer) dan prosedur (instruksi untuk manusia).
- Data: Termasuk basis data dan basis pengetahuan.
- Jaringan (Network): Media komunikasi dan dukungan jaringan.
SI menjalankan lima aktivitas dasar: Input data, Pemrosesan data menjadi informasi, Output produk informasi, Penyimpanan sumber daya data, dan Pengendalian kinerja sistem.
Literasi Tingkat Lanjut: Melek Informasi dan Literasi Digital
Kemampuan menguasai TIK saja tidak cukup; individu harus tahu bagaimana mengaplikasikan teknologi tersebut untuk mendapatkan pengetahuan.
Melek Informasi (Information Literacy)
Melek Informasi adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui informasi yang diperlukannya, serta memiliki kemampuan untuk mengakses, menemukan, dan memprosesnya untuk membuat nilai dengan TIK (Árpád, 2007; Andretta, 2005).
Melek informasi ini mensyaratkan seseorang mampu menjalankan proses pemenuhan informasi yang terdiri dari beberapa tahap:
- Analisis Kebutuhan Informasi: Menentukan spesifikasi informasi yang harus dipenuhi.
- Perancangan Produksi Informasi: Merancang urutan aktivitas, waktu, tempat, teknik, dan sumber daya SI.
- Implementasi Rancangan (Produksi): Melaksanakan produksi informasi (pencarian data, pemrosesan, dan penyampaian/sintesis).
- Evaluasi Produksi: Memastikan kesesuaian spesifikasi dan kepuasan pengguna.
- Pemeliharaan Informasi: Menjaga ketersediaan dan memperbarui informasi.
Literasi Digital
Seiring TIK terus berkembang, diperlukan Literasi Digital yang lebih komprehensif, mencakup kemampuan:
- Membuat: Menciptakan berbagai jenis konten untuk tujuan dan audien yang berbeda menggunakan beragam aplikasi.
- Membagikan: Membuat informasi mudah dicari dan dibagikan.
- Menggunakan Kembali: Konten dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan.
- Jejaring Sosial: Kemampuan berjejaring yang baik untuk membuat belajar formal dan informal menjadi efektif.
- Transliterasi: Mampu menggunakan beragam platform dan perangkat yang berbeda untuk membuat dan membagikan konten.
- Memelihara Privasi: Memahami bahaya online dan membangun strategi efektif untuk bekerja online dengan aman.
- Mengelola Identitas: Menggunakan identitas berbeda yang sesuai di berbagai jejaring sosial dan platform lainnya.
Masyarakat Informasi dan Keunggulan Kompetitif
Masyarakat Informasi adalah bentuk masyarakat baru di mana struktur sosialnya didasarkan pada pembuatan, distribusi, akses, dan penggunaan informasi secara bebas (Karvalics, 2007). Dalam masyarakat ini, informasi adalah sumber daya yang mendorong perubahan dan pembangunan.
Tujuan utama setiap orang dalam masyarakat informasi adalah mendapatkan keuntungan kompetitif melalui penggunaan TIK. Informasi tidak hanya didistribusikan lebih cepat, tetapi juga dapat dikumpulkan, disimpan, diarsipkan, dan diakses kapanpun dan di manapun (Gudauskas, 2011).
Dalam konteks bisnis, ini berarti menggunakan Sistem Informasi secara strategis untuk:
- Mencapai Keunggulan Kompetitif: Menggunakan TI untuk mengembangkan produk, layanan, dan kapabilitas yang memberikan keunggulan besar atas pesaing.
- Mengadopsi Strategi Kompetitif: Termasuk strategi kepemimpinan biaya rendah, diferensiasi produk, fokus pada ceruk pasar, dan membangun aliansi kuat dengan pelanggan dan pemasok (Porter).
- Meningkatkan Kualitas dan Efisiensi: TI memberikan nilai bisnis seperti fleksibilitas, peningkatan kualitas, pengurangan biaya, dan peningkatan produktivitas.
Sistem Informasi Strategis (SIS) adalah setiap jenis SI (seperti TPS, MIS, DSS) yang menggunakan TI untuk membantu organisasi mendapatkan keunggulan kompetitif, mengurangi kerugian kompetitif, atau memenuhi tujuan strategis lainnya.
Kesimpulan
Masyarakat Informasi bukan sekadar masyarakat yang menggunakan komputer, melainkan masyarakat yang berstruktur sosial baru yang didasarkan pada kebebasan akses dan pemanfaatan informasi. Untuk beroperasi dan berhasil dalam Masyarakat Informasi, seorang individu atau organisasi harus melalui tahapan kompetensi yang jelas: dari Melek Komputer menuju Melek TIK, kemudian mencapai tingkatan Melek Informasi dan Literasi Digital yang mendalam.
Inti dari keberhasilan ini adalah pengakuan bahwa informasi adalah aset strategis yang sangat berharga. Keunggulan kompetitif (Fenner, 2002; Gudauskas, 2011) dicapai ketika TIK dan Sistem Informasi dikelola secara efektif untuk merekayasa ulang proses bisnis dan menghasilkan nilai. Kegagalan dalam menguasai literasi-literasi ini akan menghambat individu dan organisasi untuk memanfaatkan peluang TIK dan tertinggal dalam persaingan global.
Daftar Pustaka
- Acevedo, M. (2005). Volunteering in the information society. Árpád, K. (2007). Information Society – what is it excactly?.
- Andretta, S. (2005). Information literacy: a practitioner’s guide. Bouwman, H., Hooff, B., Wijngaert, L., dan Dijk, J. (2005). Information & Communication Technology inn Organizations.
- Drucker, P. (1992). The Economy’s Power Shift. Fenner, A. (2002). Placing Value of Information.
- Gudauskas, R. (2011). National information policy, information infrastructure and libraries. Huang, Huan-Tsae, Lee, Y.W., and Wang, R.Y. (1999). Quality Information and Knowladge. International Telecommunication Union (2002). Element and principles on th information society.
- Karvalics, L. Z. (2007). Information Society – what is it excactly?. Loose, R. M. (1997). A Dicipline Independent Definition of Information.
- Machlup, F. (1980). The Production and Distribution of Knowledge in the United States.
- Moody, D. & Walsh, P. (1999). Measuring the Value of Information: an Asset Valuation Approach.
- O’Brien, J. A., dan Marakas, G. M. (2008). Introduction to Information Systems, Fifteenth Edition (Sumber B).
- Rainer, R. K., dan Cegielski, C. G. (2008). Introduction to Information System, Edisi Ketiga (Sumber D).
- Williams, S., & Sawyer, C. (2011). Using Information Technology, Ninth Edition (Sumber A). Wheeler, S. (2012). Learning with 'e’s: educational theory and practice in the digital age.



Komentar
Posting Komentar